Toleransi dan Transformasi Sosial Keberagamaan (2)
Apakah toleransi keberagamaan bagi transformasi sosial memungkinkan untuk dicapai? Jawaban tegas yang bisa diberikan adalah ia sangat mungkin dan optimis tercapai.
Apakah toleransi keberagamaan bagi transformasi sosial memungkinkan untuk dicapai? Jawaban tegas yang bisa diberikan adalah ia sangat mungkin dan optimis tercapai.


Jika manusia menurunkan egoismenya lalu menafsirkan teks suci yang relevan bagi kehidupan bersama maka umat beragama menghadapi apa yang disebut dengan proses transformasi agama


Bagi Gus Dur, semua manusia sama, tidak peduli asal-usulnya, jenis kelaminnya, warna kulitnya, sukunya, ras dan kebangsaannya


Mengobati konflik berwajah agama sangat sulit dilakukan, karena konflik ini menimbulkan luka yang mendalam. Tindakan preventif yang perlu dilakukan adalah mengantisipasi gerakan yang tumbuh dan berkembang dengan menyiapkan regulasi dan perundang-undangan.


Jika ditinjau dari perspektif historis, kekerasan dan intoleransi selama ini justru dilakukan oleh pemeluk agama-agama monoteis, baik Yahudi, Kristen maupun Islam. Pertanyaannya, mengapa pemeluk monoteis justru inheren dengan intoleransi dan kekerasan?


Sebagai generasi penerus Gus Dur, kita harus tetap merajut persaudaraan tanpa membedakan kedudukan, suku bangsa, agama, tanpa berharap mendapatkan keuntungan apapun, selain kebaikan bersama sebagai bangsa


Sebagai generasi muda bangsa, Kita perlu memahami nilai-nilai beragama secara inklusif agar kita mampu mengamalkan dan mempraktikkannya dengan cara cerdas dan santun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat multikultural


Film Unfinished Indonesia merekam satu fase perjalanan bangsa terkait keberagaman dan keberagamaan. Ia cukup berhasil mendokumentasikan adanya kelompok yang menganggap Islam sebagai agama superior sehingga pemimpin di Indonesia harus beragama Islam.


Melalui gerakan "Masjid Merdeka (Moderat dan Berwawasan Kebangsaan)", para Takmir Masjid di wilayah Solo Raya berkomitmen untuk menyebarkan paham Islam yang moderat, rahmatan lil alamin, menjunjung tinggi toleransi dan menghargai perbedaan.


Indonesia ini terdiri dari beragam agama dan budaya, maka membangun kerukunan beragama dalam kehidupan sosial-keagamaan merupakan suatu keniscayaan yang harus dibangun bersama-sama

