Sosialisme Islam ala Kiai Ahmad Dahlan
Benarkah Kiai Ahmad Dahlan lewat pergerakan Muhammadiyah telah menghapus kelas-kelas agama? Sehingga melahirkan komunitas berbentuk Persarikatan yang egaliter, demokratis dan setara.
Benarkah Kiai Ahmad Dahlan lewat pergerakan Muhammadiyah telah menghapus kelas-kelas agama? Sehingga melahirkan komunitas berbentuk Persarikatan yang egaliter, demokratis dan setara.


Sejak kapan tiba-tiba Muhammadiyah menjadi oposan anti-kekuasaan, anti-rezim dan berdiri berhadapan dengan penguasa, sementara sisi lain juga menerima subsidi dan segala bantuan dari pemerintah?


Hingga saat ini saya masih memiliki pandangan bahwa Islam di Indonesia itu kalau bukan Muhammadiyah ya NU.


Pengikut yang berkarakter dan jaringan merupakan modal terbesar dan terkuat (social capital) Muhammadiyah.


Dalam proses penanganan Covid-19, Muhammadiyah sudah menjalankan ragam program dan aksi dakwah sosial melawan Covid-19, baik yang sudah dan sedang terus dilakukan. Itulah yang saya sebut sebagai garda terakhir dalam berjihad melawan Covid-19 di Indonesia.


Pedoman umum tanggap darurat dalam Fikih Kebencanaan Muhammadiyah memuat nilai-nilai humanitas universal yang bersumber pada nash, dan tidak didikte oleh nalar sempit SARA.
![Membumi Saat Pandemi: Menengok Kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/naturaldisaster4-1.jpg)
![Membumi Saat Pandemi: Menengok Kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/naturaldisaster4-1.jpg)
Banyak yang bilang bahwa agama gagap dan mandul menghadapi Covid 19. Untunglah masih ada Muhammadiyah yang selalu produktif memproduksi pemikiran dan aksi sesuai dengan problem dan semangat zaman.
![Membumi Saat Pandemi: Menengok kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/naturaldisaster4.jpg)
![Membumi Saat Pandemi: Menengok kembali Fikih Kebencanaan Muhammadiyah [Part 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/05/naturaldisaster4.jpg)
KHR Asnawi Kudus adalah seorang ulama yang sastrawan. Sajak-sajak beliau banyak yang berbahasa Arab dan juga Bahasa Jawa, karya tulis beliau “Fasholatan” menjadi rujukan oleh umat Islam dalam melaksanakan ibadah salat sampai saat ini.


Jika saya menyebut nama Muhammadiyah dulu baru kemudian NU, sebenarnya hanya terkait dengan faktor kelahiran dua organisasi ini saja. Muhammadiyah lebih dulu lahir, tepatnya 18-11-1912/ 8 Dzulhijjah 1330 H dan baru kemudian NU, 31-01-1926/16 Rajab 1344 H. Keduanya adalah organisasi besar di Indonesia yang didirikan dua orang sahabat, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta […]


Menurut Vjekoslav Perica (2002), dalam Balkan Idol, Religion and Nationalism in Yugoslave States, perpecahan itu tidak berbasis identitas esensial yang dikonstruksi oleh agama, tetapi politisasi etno-religius oleh para penguber kekuasaan agama. Itulah pangkal dari segala selisih. Mari bersama jujur bahwa ‘seteru’ antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bukan seteru biasa. Ini bukan sekadar soal nawaytu yang […]

