Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online

Memorial 100 Hari Wafatnya KH. Agus Sunyoto (2)

3 min read

Sebelumnya: Memorial 100 Hari Wafatnya… (1)

Saya kira, ada banyak orang yang “salah paham” mengenai sosok Agus Sunyoto ini. Semoga saya keliru dalam dugaan ini. Dan salah paham ini bisa datang dari dua belah pihak sekaligus: yaitu masyarakat nahdliyyin sendiri, atau di luarnya. Apa yang saya maksud dengan “salah paham” di sini ialah adanya anggapan bahwa Mas Agus menulis “sejarah” dalam pengertian “hagiografi” sebagaimana banyak kita jumpai di dalam masyarakat kita, terutama masyarakat pesantren.

Hagiografi adalah sejarah yang ditulis hanya dengan tujuan untuk “mensucikan” tokoh tertentu, tanpa kesadaran kritis mengenai validitas data-data pendukungnya, dan cara mem-verifikasi-nya. Sekarang ini, misalnya, banyak kita jumpai buku-buku yang ditulis oleh “sejarawan pertikelir” mengenai kiai ini atau itu, pondok ini atau itu, tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk nenapis data, dan mem-verifikasi-nya.

“Sejarah” dalam pengertian populer ini direduksi hanya semata-mata sebagai proses memindahkan kesaksian populer dalam masyarakat kedalam sebuah tulisan. Tulisan semacam ini sebetulnya tidak bisa disebut “sejarah” dalam pengertian yang ketat. Ini hanyalah semacam “tutur tinular.” Mas Agus tidak menulis sejarah semacam ini. Bagaimanapun, dia adalah sosok sejarawan yang terdidik secara profesional dalam penulisan sejarah sebagaimana dikenal di perguruan tinggi modern. Dengan kata lain, dia memiliki latihan akademis sebagai sejarawan, bukan sekedar seorang penulis yang rajin mengumpulkan tuturan-tuturan yang berkembang di masyarakat, lalu meramunya menjadi sebuah “kisah.”

Mas Agus, dengan kata lain, menulis sejarah dengan kesadaran penuh tentang problem-problem dalam historiografi yang mapan dan dominan. Kesadaran ini yang membawa dia ke semacam “terra incognita,” wilayah yang jarang dijelajahi oleh sejarawan “resmi” yang lain. Narasi dia tentang “agama Kapitayan,” misalnya, adalah bentuk “perlawanan” terhadap “narasi resmi” mengenai sejarah pengislaman tanah Jawa.

Baca Juga  Syiah Kuala: Ulama Besar Tarekat Syattariyah yang Menyejukkan

Dalam berbagai kesempatan (termasuk dalam perbincangan secara personal dengan saya, baik di rumahnya atau di tempat lain), ia sering mengulang-ulang poin penting ini: Bahwa sebelum datangnya Islam, masyarakat Jawa sejatinya sudah memiliki “tradisi tauhid” sebagaimana dikenal dalam agama Kapitayan. Inilah, menurut dia, yang menjelaskan kenapa Islam bisa diterima dengan gampang oleh masyarakat Jawa. Kita boleh setuju atau tidak dengan interpretasi Mas Agus ini. Tetapi yang lebih penting adalah usaha dia untuk menampilkan interpretasi alternatif terhadap proses Islamisasi di Jawa.

Gagasan lain yang menurut saya menarik adalah interpretasi Mas Agus tentang aspek kecil dalam sejarah Wali Sanga, terutama dengan sosok “nyentrik” bernama Syekh Siti Jenar. Dia menegaskan (dan saya tidak tahu, dari mana sumbernya dia memperoleh data ini) Syekh Siti Jenar lah sosok pertama dalam sejarah Jawa yang mengenalkan konsep tentang “ingsun” sebagai pronomina atau “dlamir” atau orang pertama.

“Ingsun” maknanya adalah “saya” dalam bahasa Jawa. Sebelum istilah ini dikenalkan oleh Sykeh Siti Jenar, orang Jawa menggunakan istilah “kawula” atau “kula” untuk menunjuk dirinya sendiri. Dua istilah itu maknanya sangat merendahkan, “derogatory”: “kawula” adalah budak.

Praktek linguistik ini menandakan kuatnya kultur feodalisme yang merendahkan rakyat kecil. Syekh Siti Jenar mencoba melakukan semacam “revolusi kebudayaan” dengan mengubah bentuk kesadaran subyektif masyarakat Jawa; yaitu, dengan mengenalkan konsep tentang “aku”/“ingsun” yang otonom, bukan budak para raja atau bangsawan. Dalam masyarakat Banyumasan, praktek menyebut diri dengan “ingsun” ini masih berlaku umum; berbeda dengan kawasan Jawa yang berada dalam pengaruh keraton Jawa yang lebih kuat.

Dalam komunitas pesantren Jawa, kosa-kata “ingsun” ini masih dipertahankan dalam tradisi memaknai kitab kuning yang berbahasa Arab. Biasanya, kata “ingsun” dipakai untuk menerjemahkan kata ganti orang pertama: ana atau -tu/-ni. Apakah ini ada kaitannya dengan warisan ajaran Syekh Siti Jenar yang masih dipertahankan oleh komunitas santri, saya kurang tahu. Tetapi, jika interpretasi Mas Agus ini benar, jelas merupakan “data kultural” yang amat menarik.

Baca Juga  Mengenal Sosok KH Badrus Sholeh Syakur dari Sidoarjo

Dalam masyarakat Jawa yang terakhir ini, kata “kawula” lebih populer ketimbang “ingsun.” Dalam sebuah percakapan personal dengan saya, Mas Agus pernah menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar, pada dasarnya, adalah membangun kesadaran tentang “masyarakat sipil” yang mandiri dalam masyarakat Jawa. Dalam interpretasi semacam ini, kita melihat semangat Mas Agus untuk melihat sejarah dari sudut yang tidak “lazim.” Dengan kata lain, sudut pandang yang dipakai oleh Mas Agus adalah kaca-mata alternatif.

Dalam ujung hayatnya, Mas Agus banyak bicara mengenai sejarah Majapahit. Ketika berkunjung ke rumahnya di Malang beberapa tahun yang lalu, saya sempat bertanya: Apakah “njenengan” paham bahasa Jawa kuna yang disebut Kawi? Mas Agus memberikan jawaban afirmatif. Sasya penasaran, dari mana Mas Agus belajar bahasa Kawi. Dia menjawab: otodidak. Pertanyaan ini sengaja saya ajukan karena saya ingin tahu sumber-sumber yang dipakai oleh Mas Agus untuk memahami sejarah Majapahit: apakah sumber primer berupa kakawin, misalnya, atau sumber sekunder.

Kita tahu, sumber-sumber tentang Majapahit ditulis dalam bahasa Kawi. Ketika saya mendapatkan jawaban bahwa Mas Agus menguasai bahasa ini, saya senang sekalin, dan berkesimpulan bahwa dia tidak “sembarangan” dalam menelaah sejarah Majapahit. Dia merujuk kepada sumber primernya. Meskipun saya tidak tahu, seberapa jauh penguasaan Mas Agus atas bahasa Jawa kuna ini. Tetapi, saya yakin bahwa Mas Agus mencoba memahami sejarah Majapahit dengan sungguh-sungguh melalui sumber-sumber primer. Dan ini, sekali lagi, menunjukkan sikap dia sebagai sejarawan profesional, meski dengan interpretasi yang tidak “lazim.”

Salah satu interpretasi dia yang menarik tentang Majapahit (meski interpretasi ini tidak terlalu orisinal, menurut saya) adalah adanya kebijakan yang secara sadar diterapkan oleh kerajaan Jawa kuna itu untuk menghormati keragaman keyakinan, sebagaimana dilambangkan dalam jargon: “bhinneka tunggal ika.” Dalam sebuah percakapan personal, dia menegasksan, bahwa prinsip inilah yang membedakan masyarakat Jawa dengan masyarakat Arab.

Baca Juga  Peer Group dan Hubungan Kekariban Gus Mus dan Gus Dur [1]

Dengan kata lain, dalam masyarakat Jawa telah dikenal kesadaran yang mendalam tentang pentingnya menghargai keragaman keyakinan; “truth claim” atau kleim kebenaran tidaklah sekuat dalam kebudayaan Arab. Di sini, saya memang melihat adanya kesadaran yang kuat pada Mas Agus tentang “identitas Jawa” berhadapan dengan kearaban. Saya menduga, pandangan Mas Agus ini mencerminkan “sikap populer” yang dominan dalam beberapa tahun terakhir ini, di mana masyarakat nahdliyyin secara sadar ingin mengembangkan semacam identitas Islam yang khas nusantara vis-a-vis Islam yang dibentuk oleh kebudayaan Arab.

Ada semangat “perlawanan” yang tersembunyi dalam interpretasi dia terhadap sejarah Majapahit: sejarah Majapahit yang dilihat ulang sebagi basis pembentukan identitas Jawa yang lebih positif karena menghargai perbedaan, dan kurang dibebani dengan obsesi pada “truth claim.” Jika ada sesuatu yang orisinal pada Mas Agus, saya kira ya terletak dalam aspek ini: aspek menegaskan adanya “agency” pada umat Islam yang ada di luar kawasan Arab.

Dengan kata lain, karir historiografi Mas Agus menandakan satu hal penting: ia menulis sejarah dari pinggiran, dari wilayah yang jarang dirambah oleh orang lain. Juga pendekatan yang ia pakai: pendekatan alternatif. Karena menulis sejarah dari pinggiran tidak akan bisa “dieksekusi” dengan sebaik-baiknya jika masih menggunakan pendekatan yang dominan. Pendekatannya haruslah alternatif.

Selanjutnya: Memorial 100 Hari Wafatnya… (3)

Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online