Strategi Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Ajaran Islam
Islam yang dibawa oleh para Walisongo tidak pernah menghilangkan budaya yang berkembang di suatu daerah, mereka justru mengkombinasikan sebuah kesenian, budaya dengan nilai-nilai keislaman.
Islam yang dibawa oleh para Walisongo tidak pernah menghilangkan budaya yang berkembang di suatu daerah, mereka justru mengkombinasikan sebuah kesenian, budaya dengan nilai-nilai keislaman.


tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim telah menyusuri sejarah panjang hingga sampai pada Nabi Muhammad.


Orang-orang Hanifiyah meyakini bahwa mereka mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang diakuinya sebagai bapak spititual dan menjadikannya sebagai teladan.


Jika kecerdasan hati sudah berada dalam diri manusia menemani kecerdasan akalnya, maka akan mudah untuk membahagiakan orang dan tidak jahat kepadanya, bisa bersikap fleksibel, baik tutur katanya dan baik dalam pergaulannya


Karya-karyanya, termasuk Laila Majnun serta Khusrau dan Syirin, digubah dalam bentuk puisi atau dikenal dengan sebutan Matsnawi, Meski berbentuk kisah, karya tersebut banyak mengandung pelajaran tersembunyi bagi para penempuh jalan spiritual.


Buhaira adalah seorang pendeta Kristen Arian yang meyakini bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar manusia paling kudus yang pernah hidup, tapi ia bukan Allah yang kekal, yang berjalan dalam rupa manusia di muka bumi


Ketika Abu Thalib menyatakan bahwa remaja itu adalah putranya, Buhaira langsung tidak percaya karena di kitabnya dinyatakan bahwa nabi itu terlahir sebagai yatim. Ia lalu menjelaskan bahwa rema itu keponakan yang berada di bawah asuhan-perlindunganya.


“Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah Namus terbesar, yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkanlah dia!” Lantas siapakah Namus yang disebut oleh Waraqah?


Sang Dewi Surga, terima kasih atas tangisanmu, tirakatmu, nasehatmu, doamu yang tak tergantikan oleh siapapun, kapanpun, dimanapun


Menurut Gus Baha', seruan perang zaman sekarang tidak sama dengan pada zaman Nabi. Perang di era Nabi tak memerlukan klarifikasi mana yang benar dan salah. Rumusnya jelas, kubu Nabi benar, kubu lawan salah. Kalau saat ini, jelas susah membedakannya.

