Khoirun Niam Eksekutif Editor Journal of Indonesian Islam; Alumnus Freie Universitaet Berlin Jerman

Cara Menjaga Anak Agar Tetap Menjadi Muslim Ketika Hidup di Luar Negeri

3 min read

Video tentang nenek moyang Boris Johnson (Perdana Menteri Inggris) sedang beredar di media sosial. Boris Johnson tampak mengunjungi daerah di mana buyutnya tinggal. Video itu menggambarkan bahwa buyut dari Perdana Menteri Inggris itu, Ali Kemal, berasal dari Istanbul, Turki, yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pedagang kaya dan dididik dengan tradisi ajaran Islam yang kuat. Video itu juga menceritakan bahwa Ali Kemal hafal seluruh isi al-Qur’an.

Karena aktivitas jurnalistik dan politiknya, Ali Kemal banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Di suatu kesempatan ketika di Swiss, dia jatuh cinta dengan seorang perempuan Swiss-Inggris, Winifred Braun, anak perempuan pasangan Frank Braun dan Margaret Johnson. Pasangan itu kemudian menikah pada 11 September 1903. Dari garis keturunan inilah di kemudian hari lahir Boris Johnson yang sekarang menjadi Perdana Menteri Inggris.

Narasi yang menyertai video itu berbunyi sebagai berikut:
“Watch this video! Boris Johnson’s (UK Prime Minister) great grandfather was not just a Turkish Muslim, an activist, but also a Hafiz-ul-Quran. The scary part is that in only two generations, they managed to move completely away from Islam. A lesson for all of us with children. So, if you don’t teach your children then who will? Children’s are the trust bestowed upon us so guard it”.

Artinya kurang lebih sebagai berikut: “Coba lihat video ini! Kakek buyut Boris Johnson (Perdana Menteri Inggris) bukan hanya seorang Muslim Turki, seorang aktivis, tapi juga hafal al-Qur’an. Suatu hal yang mengkhawatirkan adalah, hanya dalam dua generasi, mereka sepenuhnya telah menjauhkan dari Islam. Sebuah pelajaran bagi kita semua dalam masalah anak. Kalau bukan orang tua yang mendidiknya, lalu siapa? Anak adalah titipan yang dipercayakan kepada kita, maka jagalah!”.

Baca Juga  Islam Nusantara dan Dialektika Antar Masyarakat

Terlepas dari akurat tidaknya narasi dalam video tersebut, video itu mengingatkan saya pada pengalaman saat enam tahun (1997-2003) kuliah di Eropa, tepatnya di Jerman, dan berinteraksi dengan berbagai etnis. Pengalaman itu memberi pelajaran berharga bahwa lingkungan sangat mewarnai pilihan sikap dan gaya hidup seseorang.

Jangankan orang yang berasal dari keturunan campuran Muslim non-Eropa dan non-Muslim Eropa, orang yang sama-sama berasal dari keturunan keluarga Muslim saja dapat berubah perilaku dan sikapnya ketika berada dalam tradisi plural seperti di Eropa.
Banyak imigran non-Eropa generasi pertama yang atas nama akulturasi budaya meninggalkan tradisi agama orang tuanya. Di sinilah letak pentinganya orang tua mempunyai prinsip kuat dalam mendidik dan mengarahkan anak agar tetap menjadi Muslim dengan segala artikulasi keimanan dan budaya di tengah perbedaan lingkungannya.

Sebenarnya apa yang paling mendasar hingga seseorang meninggalkan agamanya? Dalam kasus generasi turunan yang berada di negeri orang seperti di Eropa, menurut saya, adalah karena faktor lingkungan. Lingkungan berhasil meyakinkan untuk memilih artikulasi budaya yang bisa diterima semua orang di sana dengan tanpa beban.

Berawal dari kemampuan berbahasa sesuai dengan bahasa lingkungannya, anak ini masuk ke dalam tradisi lingkungan di mana mereka tumbuh. Lingkungan sosial di mana anak-anak itu tumbuh dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan tidak memandang perbedaan etnis, agama, ras, dan warna kulit. Lingkungan seperti inilah yang membuat anak tumbuh di sana dapat menikmati kebebasan dan melakukan interaksi sosial tanpa beban dan sekat.

Memang, ada perbedaan tantangan yang dihadapi orang tua dalam mendidik anak di masyarakat dengan tradisi yang plural dan homogen. Tantangan yang dihadapi ketika kita berada dalam lingkungan homogen seperti di Indonesia, misalnya, tidak terlalu besar. Bisa dikatakan datar-datar saja. Karena, semua orang berbicara dengan bahasa yang sama, kebiasaan dan tradisinya sama, dan dalam masyarakat tertentu, keyakinan agamanya betul-betul sama.

Baca Juga  Pro dan Kontra Sertifikasi Ulama dan Keberlangsungan Moderasi Beragama

Sementara, kalau berada dalam lingkungan yang sangat heterogen seperti di Eropa, di mana kita sebagai Muslim adalah imigran-minoritas, maka hal pertama yang dihadapi adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup secara nyaman. Itu berarti harus dapat diterima di lingkungan di mana kita berada. Dengan kata lain, tantangannya adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan dengan pandangan yang berbeda dari apa yang selama ini kita miliki, kita warisi dari nenek moyang kita.

Setiap pendatang baru di sebuah lingkungan sosial tertentu pasti berjuang untuk dapat diterima, diakui, dan dihargai. Satu-satunya cara adalah dengan memahami mereka yang mayoritas dan mempunyai lebel penduduk asli, native. Dari memahami inilah tumbuh pengakuan, penghargaan, dan akhirnya merasa tidak ada sekat dan perbedaan. Inilah yang menurut saya saat di sana yang menjadi pintu masuk awal seorang Muslim imigran melangkah keluar dari keyakinan agamanya. Mereka tidak ingin menjadi kelompok minoritas yang bisa termarginalkan.

Tentu saja, kasus ini tidak terjadi pada seluruh imigran Muslim di Eropa. Saya hanya membicarakan kasus-kasus tertentu, seperti anak keturunan Ali Kemal di atas. Jika kita ingin memastikan agar anak kita di luar negeri masih tetap memegangi tradisi dan agama orang tuanya, maka bekali dulu si anak dengan pengetahuan dan pemahaman Islam yang kuat di pesantren. Selesaikan dulu S1 dan S2 di Indonesia, baru S3 di negeri orang.

Kalau ada pernyataan, “Lha anakku tak pondokne mbedal ae….” (Anak saya di pondok tidak betah…malah melarikan diri”), ya tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, orang tualah yang bisa mengukur kemampuan adaptasi dan keteguhan keyakinan keagamaan anak-anaknya.

Jika tidak dididik Islam di pesantren, masih banyak jalan menuju Roma untuk membekali anak dengan iman yang kuat. Yang jelas, keteguhan iman adalah faktor penting agar anak cucu kita tetap kuat mempertahankan nilai, tradisi, dan budaya Islam di tengah masyarakat yang plural. [AZH, MZ]

Khoirun Niam Eksekutif Editor Journal of Indonesian Islam; Alumnus Freie Universitaet Berlin Jerman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *