Ngainun Naim Dosen IAIN Tulungagung, Pengurus ISNU Cabang Tulungagung

Pentingnya Dakwah Literasi di Era Disrupsi

2 min read

Kehidupan sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Sebagian besar orang memiliki akun di media sosial dan menghabiskan waktu setiap harinya di media tersebut. Interaksi sosial tidak lagi bersifat tatap muka, tetapi riuh rendah di dunia maya.

Jika Anda aktif di media sosial, saya yakin Anda memiliki pemikiran yang senada dengan paragraf pembuka catatan ini. Dinamika dunia maya memang sangat kompleks dan tidak mudah untuk diurai. Lalu lintasnya berlangsung nyaris tiap detik.

Jika Anda mengunggah sesuatu, unggahan Anda akan dibaca oleh orang dalam jumlah yang tidak terbatas. Jika Anda mengunggah kebajikan maka kebajikan itu akan berlipat-lipat kali saat dibaca, memberikan inspirasi, dan menjadi energi untuk transformasi. Sebaliknya, jika Anda menebarkan keburukan maka keburukan itu juga akan berlipat saat orang mendapatkan inspirasi keburukan dari apa yang Anda unggah.

Itulah salah satu kekuatan media sosial. Informasi demi informasi berdatangan seperti air bah tanpa bisa dibendung. Begitu derasnya sampai masyarakat bingung terhadap apa yang seharusnya dilakukan. Sulit lagi untuk dibedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Media sosial bukan hanya mendeskripsikan realitas tetapi juga membentuk realitas. Kebenaran pun bisa dikonstruksi sesuai dengan kepentingan yang ada di belakangnya. Media sosial bisa membentuk cara berpikir seseorang.

Orang yang telah cukup matang dalam kemampuan berpikirnya pun bisa dipengaruhi oleh media. Ia bisa berubah dalam pikiran, pemahaman, dan tindakannya karena kekuatan tulisan di media. Jika orang yang telah matang berpikir saja bisa berubah, maka perubahan lebih mungkin terjadi pada anak-anak dan pemuda.

Fenomena ini biasa disebut sebagai liberalisasi informasi. Ketika liberalisasi informasi semakin berkembang, maka implikasi negatif yang dirasakan adalah tumbuhnya sikap pragmatisme akut. Kehidupan keagamaan pun ditandai oleh fenomena semacam ini. Orang tidak lagi belajar agama memakai pola lama yang konvensional, tetapi belajar melalui media sosial yang tidak selalu terjamin validitasnya. Liberalisasi informasi juga memunculkan ideologi pemikiran transnasional fundamentalis. Ideologi ini menawarkan diri sebagai tandingan dari ideologi neokapitalis yang diusung oleh globalisasi.

Baca Juga  Gagasan 'Muslim Progresif’ Omid Safi: Antara Tasawuf dan Humanisme

Realitas semacam ini seharusnya kita respon secara kreatif. Kita tidak bisa bersifat pasif dan menerima mentah-mentah informasi yang tersaji. Informasi yang tersaji semestinya diberi sentuhan nilai-nilai luhur. Jika ada yang kurang baik, maka adalah tugas kita bersama untuk memberikan usaha-usaha kreatif agar informasi kembali jernih dan menghadirkan nilai-nilai positif.

Salah satu langkah yang penting untuk dilakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis merupakan modal penting untuk menghadapi era disrupsi yang sedemikian dinamis. Tulisan yang kita buat akan membawa implikasi berlipat, baik atau buruk. Justru karena itulah membuat tulisan yang baik menjadi kebutuhan yang sangat mendasar.

Dalam konteks ini, keandalan literasi menjadi jawaban dalam mengarungi zaman yang tidak menentu ini. Keandalan literasi adalah kata kunci yang harus dikuasai agar kita bisa menjadi penyintas di era media sosial ini.

Literasi masih menjadi aspek yang kurang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Budaya berbicara lebih dominan dibandingkan dengaan budaya membaca dan menulis. Padahal, literasi memiliki pengaruh yang lebih luas, mendalam, dan lama. Dunia dakwah kita juga lebih didominasi oleh budaya lisan daripada budaya tulis.

Bukan berarti budaya lisan tidak penting. Sama sekali tidak. Budaya lisan telah ada, hadir, dan menjadi bagian yang tidak terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Tradisi literasi merupakan upaya memperkaya tradisi yang ada. Tradisi lisan jelas akan tetap menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan, sementara tradisi literasi memperkaya tradisi lisan yang telah mapan.

Dakwah dengan tulisan memiliki banyak kelebihan. Pertama, menghadirkan karakter keberagamaan yang mencerahkan. Tentu kita harus kreatif agar tidak kehilangan konteks dan relevansi. Generasi milenial sesungguhnya haus akan bacaan agama yang bermutu di media sosial. Tidak sedikit generasi sekarang ini yang mengonsumsi bacaan agama yang tidak mencerahkan. Di sinilah peluang dakwah literasi.

Baca Juga  Menanamkan Sikap Moderat kepada Anak sejak Dini

Kedua, dakwah melalui tulisan mampu menjangkau pembaca yang sangat luas. Sejalan dengan karakter media sosial, tulisan yang diunggah akan cepat tersebar melewati ruang dan waktu.

Ketiga, dakwah lewat tulisan bisa menghadirkan model keberagamaan yang moderat. Media sosial itu tidak netral. Kemampuan media untuk menciptakan realitas dimulai dari kekuasaannya untuk menentukan jenis lansiran yang akan disebar kepada masyarakat. Proses penentuan berita dikenal dengan istilah framing, yaitu sebuah proses penyeleksian dan penyorotan khusus terhadap aspek-aspek realita oleh media.

Proses framing fokus pada strategi seleksi, penonjolan, dan tautan fakta ke dalam berita agar berita tersebut lebih bermakna, lebih berarti atau lebih diingat, dan untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Dalam konteks ini, tulisan dakwah yang mencerahkan sangat penting artinya untuk dihadirkan sebagai cara menghadirkan perspektif yang mencerahkan. [AZH, MZ]

Ngainun Naim Dosen IAIN Tulungagung, Pengurus ISNU Cabang Tulungagung

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *