



















Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]


Islam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri melalui ikhtiar, kerja keras, dan tawakal kepada Allah. Khutbah Jumat ini mengulas pentingnya mencari rezeki yang halal dengan meneladani para nabi.



Khutbah Jumat tentang pentingnya selektif memilih idola dan guru berdasarkan ilmu, akhlak, dan istiqamah di era media sosial.


Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, gengsi, dan keinginan dipuji manusia. Melalui refleksi Surah Al-Kautsar, khutbah ini mengajak umat Islam memahami makna kurban yang benar-benar lillahi ta’ala.


Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai realitas sosial yang terasa semakin berat, umat Islam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Khutbah Jumat ini mengajak kaum muslimin agar tetap teguh menolak kezaliman, serta menjaga iman meskipun berada dalam kondisi yang sulit.


Gaya hidup halal yang benar-benar dekolonial dan etis tidak akan diukur dengan label sertifikasi, melainkan oleh hubungan moral dan ekologis yang dipupuknya


Ruang aman di pesantren perlu ditegakkan dan ditegaskan, agar tidak ada korban yang bergelimpangan lagi.


Jangan lupakan oknum pesantren yang melakukan kekerasan seksual dan manipulasi juga merusak citra pesantren.


Tayangan media kerap menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren. Padahal, pesantren berperan penting membentuk akhlak, tradisi, dan karakter bangsa.


Islam mengajak umat beriman untuk memandang koeksistensi sebagai sebuah tindakan iman, sebuah pengakuan akan keagungan Tuhan dalam keragaman manusia.


Citra pesantren kerap tampil berbeda di layar media, antara kesalehan dan kontroversi. Artikel ini menelisik bagaimana framing media membentuk persepsi publik tentang pesantren, sekaligus mengajak pembaca melihat ulang realitas di balik “cermin retak” pemberitaan.


Al-Jahizh, ulama jenaka dari Basrah, memadukan ilmu, humor, dan kritik sosial. Ia mengajarkan bahwa berpikir kritis tak harus kehilangan tawa


Melalui pendekatan hermeneutik dan etnosemiotika, tulisan ini membedah cara masyarakat menafsirkan pesantren, antara empati, kritik, dan bias modernitas, serta mengajak pesantren melakukan autokritik agar mampu berkomunikasi dengan dialek zaman tanpa kehilangan jiwanya


Tidak ada keberhasilan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kecuali dengan kesabaran.


Artikel ini mengulas sejarah panjang santri di Indonesia serta empat tipe santri menurut Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan berkhidmat sebagai kunci keberkahan dan kesempurnaan seorang santri

