Hingga Ujung Nyawa [2]: Secercah Sinar Harapan
Optimisme seketika menyeruak untuk kesembuhan suamiku. Meski untuk ukuran sakitnya jarang yang bisa lolos dari lubang maut.
Optimisme seketika menyeruak untuk kesembuhan suamiku. Meski untuk ukuran sakitnya jarang yang bisa lolos dari lubang maut.
![Hingga Ujung Nyawa [2]: Secercah Sinar Harapan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/just-for-you-825x510.jpg)
![Hingga Ujung Nyawa [2]: Secercah Sinar Harapan](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/just-for-you-825x510.jpg)
Ruangan itu masih merupakan ruang steril dengan deretan larangan bagi siapapun untuk datang. Tetapi lebih longgar dari ICU. Tempat pemulihan ring satu, sebelum boleh pindah ke ruangan yang boleh ditunggui keluarga.
![Hingga Ujung Nyawa [1]: Hingga Ujung Nyawa Di Samping](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/just-for-you-825x510.jpg)
![Hingga Ujung Nyawa [1]: Hingga Ujung Nyawa Di Samping](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/just-for-you-825x510.jpg)
Karena kelangkaan mushaf Alquran pada saat itu, khususnya di wilayah Ponorogo, kiai Ibrohim kemudian berinisiatif untuk menulis dengan tujuan memperbanyak jumlahnya dan akhirnya beliau berhasil menulis sebelas mushaf.


Pengabdian pertama seorang calon ayah kepada anak-anaknya adalah memilihkan calon ibu yang baik buat anak-anaknya nanti. Dan.. Aku ingin memilihmu


Mim pergi begitu saja. Tanpa pamit. Bahkan sekadar memberi kabar pun tidak. Kehilangan Mim bukan perkara remeh


Cahaya pemandu di dalam hati itu terkibas-kibas angin. Ia tergoda oleh padam. Ingin sekali menyelamatkan nyalanya. Agar cinta yang sudah terbangun tidak menjadi sia-sia.


Tidak beruntung sekali nasib perasaan ini, pikirnya. Kerumitan demi kerumitan dalam hubungannya dengan Mim muncul satu demi satu.


Haiyss..! Kenyataannya tak selalu seindah harapan. Alif membanting bantalnya ke tembok. Kata siapa perempuan itu seperti bunga? kalau sedang begini rumitnya melebihi trigonometri dan aritmatika. Gembus!


Mim terngiang kembali kalimat bapaknya. Halus. Tidak memaksa, tapi mengunci. Bayangan Alif muncul menyusul. Kepada lelaki ini seharusnya dia berbagi kekuatan, mengatasi rintangan bersama dan saling meyakinkan. Namun, Alif kini menjauh. bahkan kian jauh.


Ia menurut dan tersenyum diam-diam. Tiba-tiba ada perasaan menghangat jauh di dalam hatinya.

