Trilogi Tasawuf pada Atap Masjid Kuno Nusantara
Trilogi tasawuf sering dikaitkan dengan makna di balik bagian atas masjid kuno yang berbentuk atap tumpuk atau yang dalam banyak tulisan disebut atap tumpang/atap bertingkat.
Trilogi tasawuf sering dikaitkan dengan makna di balik bagian atas masjid kuno yang berbentuk atap tumpuk atau yang dalam banyak tulisan disebut atap tumpang/atap bertingkat.


Para sufi memiliki teori khas terhadap alam semesta. Terutama, mereka yang sangat antusias menyelami bidang filsafat atau biasa disebut sufi-filsuf, seperti Ibn ‘Arabi, Abdul Karim al-Jili, dan semacamnya.Tak terkecuali KH. Achmad Asrori al-Ishaqi.


Sesungguhnya rumah atau tempat yang tidak ditempati, kosong, sepi, maka jin akan menempati. Sedang di rumah yang biasa meghidangkan kopi, maka para jin tidak akan bisa menempatinya dan tidak akan bisa mendekat atau menganggu


Para sufi biasa menyebut al-samā‘ sebagai usaha menyimak suara bermelodi atau musik. Mereka menekankan pentingnya samā‘ sebagai media—untuk tidak mengatakan satu-satunya media—yang bisa mempengaruhi hati.


Sebagai khalifah di dunia, manusia memiliki tanggung jawab atas kesehatan bumi, mulai dari kesehatan alam sampai kesehatan dirinya sendiri


Wahabi sangat anti-tasawuf. Karena kebencian pada tasawuf, Wahabi menyamakan praktik tasawuf kaum sufi sama dengan kaum Syiah.


Berbeda dengan Fazlur Rahman yang mengajukan tipologi neo-sufisme, beberapa akademisi seperti Muhammad Mustafā Hilmī, dkk justru menginventarisir posisi sufisme Ibnu Taimiyyah di luar tipologi tasawuf Sunnī dan Falsafī, yakni “Tasawuf Salafi”
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 3-habis]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 3-habis]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Ibnu Taimiyyah selalu menegaskan kewajiban mengutamakan syariat dalam mentradisikan praktik sufistik.
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Ovamir Anjum berpendapat bahwa Ibnu Taimiyyah mendukung tasawuf tanpa mistisisme. Baginya, Ibnu Taimiyyah ingin memulihkan tradisi tasawuf yang paling awal dan autentik yang didasarkan pada al-Qur’ān dan Sunnah.
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Wali adalah ia yang telah dapat membebaskan diri dari jerat hawa nafsunya, kecenderungan-kecenderungan jiwa rendahnya, dan hubungan dirinya dengan alam sekitar.

