Akhol Firdaus Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) dan Dosen UIN SATU, Tulungagung;

Komunitas Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP): Merayakan Perbedaan sebagai Misi Profetik

3 min read

Apakah perbedaan dan keragaman perlu dirayakan? Meski jawabannya bersifat relatif, tetapi tidak demikian bagi sejumlah tokoh agama dan kepercayaan yang telah lama terlibat dalam komitmen gerakan merayakan perbedaan dalam suatu wadah bernama Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP).

Merayakan perbedaan bagi mereka tak ubahnya seperti misi profetik. Memupuk keberagaman dalam suatu kegiatan selebrasi juga dipandang sebagai sarana penting untuk memupuk kesadaran religiositas dan memperkokoh wawasan kebangsaan bagi masyarakat beragama/berkepercayaan.

Pandangan seperti itu pula yang mendasari lahirnya IMP sebagai organisasi aliansi masyarakat sipil yang dirintis oleh tokoh-tokoh agama di Jawa Timur pada tahun 2018. Kala itu, ada kegelisahan yang dirasakan bersama di lingkungan para tokoh untuk membentuk suatu forum interfaith dialog yang tidak hanya bersifat ad hoc, tetapi juga bersifat sustainable dan jangka panjang.

Dr. Otto Bambang Wahyudi, salah satu pionir organisasi aliansi tersebut, mengisahkan bahwa, kelahiran IMP prosesnya sangat cepat karena tokoh-tokoh yang menggagasnya adalah orang-orang lama yang sudah terlibat dalam gerakan lintas agama/kepercayaan sejak era KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi pemotor forum-forum lintas agama/kepercayaan kala itu.

Tokoh-tokoh itu adalah, Pdt Simon Filantropa (mewakili Kristen), KH. Mohammad Nizam As-Shofa (Islam), RD. Johanes Anano Sri Nugroho (Katolik), Naen Soeryono (Kepercayaan), Prof. Ir. Nyoman Sutantra (Hindu), Bhikku Tejapunno (Buddha), dan tentu saja Bingky Irawan (alm) (Konghucu). Mereka inilah para pilar gerakan dialog lintas iman di Jatim yang sudah lama sekali berjejaring jauh sebelum IMP lahir.

Masih menurut kisah Otto B. Wahyudi, sesudah tokoh-tokoh tersebut bertemu di Sanggar Candi Busono, Jemursari, Surabaya, pada pertengahan 2018, akhirnya mereka bersepakat untuk memformalkan forum dialog lintas agama/kepercayaan menjadi suatu organisasi.

Baca Juga  [Cerpen]: Dilema Cinta Beda Agama

Disepakati pula bahwa organisasi tersebut berbadan hukum, berbentuk perhimpunan, dan sejak awal pembentukannya, kepemimpinan diserahkan kepada KH. Mohammad Nizam As-Shofa, atau akrab disapa Gus Nizam, seorang pengasuh Pondok Pesantren Darul Sofa Wal Wafa, Wonoayu, Krian, Sidoarjo.

Bagi sementara orang yang belum familiar dengan Gus Nizam, cukup diperkenalkan dengan karya Syi’ir Tanpo Waton yang begitu populer dan marak disetel di masjid dan musala selama bertahuan-tahun terakhir. Banyak orang pada awalnya menyangka Syi’ir tersebut dicipta dan dilantunkan oleh mendiang Gus Dur, padahal itu adalah karya Gus Nizam dan beliau sendirilah yang melanggamkannya. Tak dapat dielak, beliau ini memang dikaruniai suara yang sangat mirip dengan Gus Dur.

“Sejak masa inilah, IMP terus ingin mewujudkan karya melalui dialog lintas iman, tetapi dalam kerangka kebangsaan Indonesia dan memupuk kesadaran spiritualitas masyarakat,” sambung Otto B. Wahyudi.

Pada awalnya, gerakan dialog memang diwujudkan dalam bentuk dialog yang melibatkan semua agama dan kepercayaan untuk membedah berbagai isu aktual kebangsaan dan kebudayaan dari kacamata semua agama dan kepercayaan.

Keterlibatan para tokoh-tokoh agama tidak hanya dibatasi dalam enam agama yang direkognisi oleh pemerintah, tetapi juga agama-agama yang belum mendapat pengakuan seperti agama Tao, Baha’i, dan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Otto B. Wahyudi sendiri adalah salah satu tokoh Penghayat Kepercayaan di Jawa Timur yang dipercaya oleh Perkumpulan IMP untuk mengawal platform dialog yang digelar setiap minggu, pada hari Senin malam.

Pada awalnya, dialog dirancang bisa disiarkan oleh stasiun televisi lokal. Setelah upaya itu diujicobakan, ternyata prosesnya sangat rumit dan mahal. Oleh karena itu, bersamaan dengan periode pandemi Covid-19 tahun 2020, platform dialog lintas agama/kepercayaan yang dilaksanakan oleh IMP kemudian diputuskan untuk dilaksanakan secara online dengan menggunakan Zoom.

Dialog IMP membedah hampir semua isu keagamaan, sejarah, kebudayaan, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan berbagai isu kontemporer dengan perspektif semua agama dan kepercayaan.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (21): Legislasi Syariat Islam Dalam Negara-Pancasila, Bacaan Lain atas Formalisasi Syari’at Islam di Indonesia

Bisa dibayangkan, forum yang sudah dirintis sejak 2019 itu, berlangsung setiap minggu, dan sesudah empat tahun berselang, forum tersebut telah mencapai 200 seri lebih. Melalui media online pula, platform dialog lintas agama/kepercayaan tersebut memungkinkan diakses oleh berbagai kalangan dan bersifat lintas geografi.

Sekali lagi, Otto B. Wahyudi—sebagai tokoh sentral yang mengawal forum-forum dialog tersebut—berpandangan bahwa dialog yang terus digelar setiap minggu tersebut, bertujuan untuk memupuk rasa kecintaan pada kebangsaan Indonesia, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menurutnya, “Wawasan keagamaan dan spiritualitas yang ditata dan dirawat dengan cara dialog ikut menyumbang terwujudnya wawasan kebangsaan dan sikap moderasi masyarakat yang makin kokoh.”

Forum-forum dialog itu seolah mencapai puncaknya pada Jumat, 29 September 2023, ketika semua tokoh agama dan kepercayaan yang terlibat secara intensif di dalamnya mendeklarasikan komitmen perdamaian dalam suatu acara “Deklarasi Indonesia Damai”.

Diselenggarkan di Balai Paroki Santo Yakobus, Surabaya, Deklarasi ini seolah menjadi manifesto tokoh-tokoh agama di Jatim tentang sikapnya dalam menjaga perdamaian atas nama agama dan kepercayaan masing-masing. Gus Nizam sendiri menegaskan bahwa, “Damai adalah satu-satunya cara beragama dan berkepercayaan yang sesuai dengan kepribadian Indonesia.”

Sesudah melewati ratusan forum dialog, tokoh-tokoh lintas agama/kepercayaan bersama komunitasnya masing-masing, tampak memiliki kedewasaan dalam menggapai pendalaman religiositas dan spiritualitas dalam rangka memupuk semangat kebangsaan Indonesia. Iman dan spiritualitas yang mendalam akan berbuah pada rasa kebangsaan yang semakin kokoh dan semangat perdamaian yang semakin tinggi.

Setelah menggelar forum dialog ratusan kali, IMP tidak tampak akan menghentikan kegiatan tersebut. Ketika ditanya sampai kapan forum dialog lintas agama/kepercayaan dilakukan oleh IMP, dengan enteng Otto B. Wahyudi menjawab, “Mungkin sampai kiamat.”

Baca Juga  Idzotun Nasyi’in, Ikhtiar Revolusi Budaya dan Pesantren

Tentu saja ia sedang berseloroh dengan jawaban itu. Meski begitu, jawaban tersebut justru menggambarkan betapa komitmen IMP yang luar biasa dalam menjaga forum-forum dialog tetap mewarnai kehidupan keberagaman dan keberagamaan di Jawa Timur.

Meski baru dalam tahap rencana, model dialog lintas agama dan kepercayaan, sebagaimana sudah dilestarikan oleh IMP, akan diubah dengan model safarian, yakni saling bergantian mengunjungi tempat ibadah dan komunitas agama/kepercayaan. [AR]

Akhol Firdaus Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) dan Dosen UIN SATU, Tulungagung;