Identitas Keagamaan Muslim Madura dan Tantangannya: Refleksi dari Pengalaman di Bali
Bagi orang Madura, sarung dan kopiah bukan sekadar aksesoris dan simbol agama, melainkan lebih dari itu, yaitu semacam identitas jati diri.
Bagi orang Madura, sarung dan kopiah bukan sekadar aksesoris dan simbol agama, melainkan lebih dari itu, yaitu semacam identitas jati diri.


"Melalui pemahaman yang lebih baik tentang keberagaman agama, kita yakin dapat menciptakan generasi yang lebih terbuka dan toleran."


Dalam hati, saya bergumam, “Moderasi beragama itu sangatlah penting, apalagi di lingkup Perguruan Tinggi Keagamaan."


Bayangkan saja, seorang mahasiswa doktoral menangis tersedu-sedu di hadapan rekan sejawat, seperti seorang anak kecil menangis di pelukan abangnya sendiri, padahal mereka berbeda agama dan bahkan etnis dengan saya.


Konsep moderasi beragama, menurut Pak Lurah Desa Jajar, “menjadi titik tolak untuk mengedepankan desa sebagai hulu kebudayaan, tanpa menafikan kemanusiaan.”


Bopo Otto merupakan tokoh yang memainkan peran sentral dalam menjaga dan merawat energi dialog lintas agama/kepercayaan yang sudah berjalan empat tahun terakhir.


Merayakan perbedaan bagi mereka tak ubahnya seperti misi profetik.


Tak ada yang sia-sia dari gerakan sosial yang dirintis dan dikawal oleh anak-anak muda, terutama bila itu diniatkan untuk mewujudkan tata keagaman yang lebih moderat dan toleran.


Ormas Muhammadiyah bertekad agar umat Islam sadar kewajibannya dalam menjaga lingkungan hidup.


Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki peran strategis dalam mengatasi isu lingkungan melalui Bahtsul Masail dan fatwa-fatwanya.

