



















Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]


Islam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri melalui ikhtiar, kerja keras, dan tawakal kepada Allah. Khutbah Jumat ini mengulas pentingnya mencari rezeki yang halal dengan meneladani para nabi.



Khutbah Jumat tentang pentingnya selektif memilih idola dan guru berdasarkan ilmu, akhlak, dan istiqamah di era media sosial.


Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, gengsi, dan keinginan dipuji manusia. Melalui refleksi Surah Al-Kautsar, khutbah ini mengajak umat Islam memahami makna kurban yang benar-benar lillahi ta’ala.


Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai realitas sosial yang terasa semakin berat, umat Islam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Khutbah Jumat ini mengajak kaum muslimin agar tetap teguh menolak kezaliman, serta menjaga iman meskipun berada dalam kondisi yang sulit.


Meskipun Ramadan hanya berlangsung sebulan, pelajaran tentang kesabaran dimaksudkan untuk dijalani sepanjang tahun.


Ramadan tentu saaja jauh lebih dari sekadar serangkaian ritual, melainkan adalah keselarasan sakral antara tubuh, ruang, dan kesadaran.


Menyelaraskan iman dengan tindakan menumbuhkan pengalaman Ramadan yang tidak hanya membangkitkan semangat spiritual, melainkan juga semangat tanggung jawab secara sosial dan lingkungan.


Dalam dunia di mana umat manusia hidup berdampingan dalam keberagaman, humor dapat menjadi jembatan antara umat Islam dan pemeluk agama lain untuk menciptakan ruang bersama dalam dialog dan memahami.


Dalam menghadapi era disrupsi, pesantren perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan esensi pendidikannya, yaitu pembentukan karakter berbasis spiritualitas dan religiusitas.


Kapitalosen, istilah yang dicetuskan oleh sejarawan lingkungan Jason W. Moore, mengkritik Antroposen dengan mengalihkan fokus dari manusia secara keseluruhan ke kapitalisme sebagai sistem historis yang mendorong kerusakan lingkungan.


Asma Barlas dengan pemikiran feminisme al-Qur’an telah melontarkan wacana baru tentang pentingnya melakukan reinterpretasi teks keagamaan secara egaliter, adil, dan ramah gender.


Squid Game memberikan pesan moral bahwa berlomba-lomba dalam mencari harta boleh saja tetapi jangan sampai menghilangkan rasa kemanusiaan.


Nafsu bukanlah musuh yang harus dihancurkan, tetapi aspek diri yang harus diarahkan ke jalan yang benar. Dengan pengendalian dan kesadaran, kita dapat menjaga keseimbangan hidup serta mendekatkan diri kepada Allah.


Menangani krisis ekologis tidak hanya membutuhkan solusi ilmiah dan teknologis, tetapi juga perlu etika, spiritualitas, dan kompas moral yang di dalamnya agama dapat memainkan peran penting.

