





















Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]


Islam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri melalui ikhtiar, kerja keras, dan tawakal kepada Allah. Khutbah Jumat ini mengulas pentingnya mencari rezeki yang halal dengan meneladani para nabi.


Khutbah Jumat tentang pentingnya selektif memilih idola dan guru berdasarkan ilmu, akhlak, dan istiqamah di era media sosial.


Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, gengsi, dan keinginan dipuji manusia. Melalui refleksi Surah Al-Kautsar, khutbah ini mengajak umat Islam memahami makna kurban yang benar-benar lillahi ta’ala.


Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai realitas sosial yang terasa semakin berat, umat Islam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Khutbah Jumat ini mengajak kaum muslimin agar tetap teguh menolak kezaliman, serta menjaga iman meskipun berada dalam kondisi yang sulit.


Gus Awis berpesan pada santrinya tiga hal yaitu mengingat kebaikan orang tua, mengkonsumsi makanan halal dan baik, dan membiasakan berkata jujur dan baik.


Guru madrasah swasta memiliki peran mulia namun tidak sebanding dengan gaji yang diterima.


Tuhan mungkin mengizinkan penderitaan, tetapi manusia sering kali menjadi instrumennya. Maka, ini bukan lagi tentang kebaikan Tuhan, melainkan tentang tanggung jawab manusia.


Rasuna Said bukan hanya nama jalan. Ia adalah suara keberanian perempuan yang menyatukan iman, ilmu, dan perlawanan; menantang pendidikan yang membungkam, agama yang membatasi, dan kekuasaan yang melupakan janji-janji keadilan


Dakwah di era digital berubah menjadi tontonan, mengkomodifikasi agama demi engagement dan melahirkan "fast food spiritual"


Keikhlasan sering diremehkan dalam ekonomi perhatian di medsos saat ini. Ia tidak menjadi tren, sebab ia tidak menghasilkan uang, tak menghasilkan apa-apa.


Basmalah bukan sekadar bacaan pembuka, tapi wujud adab, doa, dan pengharapan berkah dalam setiap langkah hidup seorang muslim


Kekerasan antar-laskar keagamaan bukan sekadar konflik antarormas, melainkan cermin dari kultur kekerasan yang terlembagakan akibat negara yang gagal menjamin keadilan, penegakan hukum, dan pemerintahan yang bersih.


Memperjuangkan hak perempuan atas tubuhnya adalah ikhtiar menuju kemaslahatan, keadilan, dan kehidupan yang bermartabat.


Di era digital, keikhlasan sulit diukur. Kita tidak bisa menandainya, dan paling penting ia tidak bisa menjadi tren.

