



















Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]


Islam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri melalui ikhtiar, kerja keras, dan tawakal kepada Allah. Khutbah Jumat ini mengulas pentingnya mencari rezeki yang halal dengan meneladani para nabi.


Khutbah Jumat tentang pentingnya selektif memilih idola dan guru berdasarkan ilmu, akhlak, dan istiqamah di era media sosial.


Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, gengsi, dan keinginan dipuji manusia. Melalui refleksi Surah Al-Kautsar, khutbah ini mengajak umat Islam memahami makna kurban yang benar-benar lillahi ta’ala.


Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai realitas sosial yang terasa semakin berat, umat Islam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Khutbah Jumat ini mengajak kaum muslimin agar tetap teguh menolak kezaliman, serta menjaga iman meskipun berada dalam kondisi yang sulit.


Pemfokusan pada kredensialisme dan sertifikatisme, menurut Illich, melanggengkan kesenjangan sosial dan menciptakan ketergantungan pada pendidikan formal untuk mobilitas sosial dan ekonomi.


Bersikap sewajarnya dalam beragama merupakan hal yang penting. Berada di posisi tengah-tengah dengan tidak berlebihan menjalankan syariat,


Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa kata العُسْرِ (kesulitan) ditulis dalam bentuk isim mufrad ma’rifat yang berarti satu kesulitan. Sedangkan kata يُسْرًا (kemudahan) berupa isim nakirah yang dapat diartikan kemudahan secara umum. Artinya, setiap satu permasalahan Allah akan mendatangkan banyak solusi dan kemudahan.


Pekerja teknologi sering merasa terasing dari hasil kerja mereka, sementara pengguna media sosial bisa merasa terasing dalam interaksi yang didominasi oleh algoritma.


Moderasi beragama dan etika global Hans Küng memberikan peta jalan yang jelas untuk mencapai perdamaian dan keharmonisan dalam masyarakat yang pluralistik.


Sebagai seorang muslim atau muslimah, dalam agama kita telah ditetapkan anjuran yang dapat menjadi pedoman dalam berpakaian.


Dengan perannya yang signifikan dalam menjaga kebhinekaan, NU telah memberikan kontribusi besar bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.


Yusuf al-Qaradawi, melalui ijtihad, menawarkan pandangan yang adaptif dan progresif mengenai bagaimana muslim menanggapi kemajuan teknologi.


Keputusasaan tidak akan mendekat jika kita sudah berdamai dengan keadaan, dalam rupa apa pun itu.


Proses keluar dari gua merupakan perjalanan transformatif yang membutuhkan kemauan, keberanian, dan ketekunan menghadapi ketidaknyamanan dan ketidakpastian.

