Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [2]
[Serat Wulangreh Pupuh Gambuh] "ketika seseorang menyombongkan dengan apa yang mereka miliki, mereka akan mati dengan sendirinya".
[Serat Wulangreh Pupuh Gambuh] "ketika seseorang menyombongkan dengan apa yang mereka miliki, mereka akan mati dengan sendirinya".
![Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-65-1-825x510.png)
![Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-65-1-825x510.png)
Serat Wulangreh yang ditulis oleh PB IV ini dijadikan sebagai media berdakwah sang raja untuk menyampaikan ajaran agama Islam terutama yang ada dalam pupuh Gambuh.
![Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-65-1-825x510.png)
![Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/08/Untitled-design-65-1-825x510.png)
Baginya, demokrasi adalah suara rakyat, sehingga partai politik jangan sampai berpikir untuk kepentingan kelompoknya saja. Maka dari itu, pendidikan bagi rakyat dan penggalian pemahaman terkaiat politik sangat dibutuhkan, supaya aspirasinya tersampaikan ke atas, yaitu kepada pihak pemerintahan yang diamanahkan oleh masyarakat. Bukan sebaliknya, seperti yang saat itu−─anehnya, masih berjalan sampai sekarang−─berlangsung di PSII maupun partai lain. (Agus Salim, 2004: 113)


“Pantaskah Kita Kembali Langsung kepada Alquran dan Sunnah Nabi Saw dengan Meninggalkan Khazanah Para Leluhur/Al-Salaf al-Sālih?”


Dakwah milenial ala Husein Ja’far al-Hadar mampu menjadikan Islam menjadi agama mysterium fascinum (sesuatu yang mempesona).


Fenomena kesenjangan digital tidak semata-mata berkaitan dengan isu kesenjangan akses, tapi lebih dari itu juga kesiapan individu untuk dapat memanfaatkan kemajuan teknologi digital secara proporsional.


Berikut ini bukti-bukti bahwa Islam adalah agama damai, bukan agama perang.


Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat pada zaman klasik (dinasti Umayyah-Abbasiyah) tidak bisa terlepas dari peranan lembaga pendidikan yang ada pada waktu itu. Ia merupakan tempat atau media bagi transmisi keilmuan yang mampu melahirkan banyak cendekiawan Muslim.


“Garuklah kulit orang Jawa Islam, maka anda akan dapati nilai-nilai Hindu di dalamnya.."
![[Resensi] Jawa-Islam di Masa Kolonial](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-11-1-825x510.png)
![[Resensi] Jawa-Islam di Masa Kolonial](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/07/Untitled-design-11-1-825x510.png)
Dalam pandangan Gus Dur, Syiah ada dua model: Syiah Tsaqāfīyah (kultural) dan Syiah Aqīdīyah (politik). Syiah kultural berasal dari Alī al-Gharāinī bin Ja‘far al-Shādiq, sedangkan Syiah politik berasal dari Musa Kazhim bin Ja‘far al-Shadiq

