




















Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]


Islam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri melalui ikhtiar, kerja keras, dan tawakal kepada Allah. Khutbah Jumat ini mengulas pentingnya mencari rezeki yang halal dengan meneladani para nabi.



Khutbah Jumat tentang pentingnya selektif memilih idola dan guru berdasarkan ilmu, akhlak, dan istiqamah di era media sosial.


Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, gengsi, dan keinginan dipuji manusia. Melalui refleksi Surah Al-Kautsar, khutbah ini mengajak umat Islam memahami makna kurban yang benar-benar lillahi ta’ala.


Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai realitas sosial yang terasa semakin berat, umat Islam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Khutbah Jumat ini mengajak kaum muslimin agar tetap teguh menolak kezaliman, serta menjaga iman meskipun berada dalam kondisi yang sulit.


Kemerdekaan sejati adalah ketika bangsa ini berani menatap masa depan dengan percaya diri, dengan otak yang tercerahkan, hati yang bersih, dan karya yang nyata.


Jika seseorang mendapati dirinya “menjadi religius” tetapi merasa lebih kaku, marah, atau merasa benar sendiri, ia mestinya bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya ingin dihindari?


Marie Curie menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan milik laki-laki atau elit semata, melainkan alat pembebasan. Dari laboratorium hingga medan perang, ia membuktikan sains bisa menjadi perlawanan dan solidaritas.


Empat sifat mulia—sabar, rendah hati, dermawan, dan berbudi luhur—dapat mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, meski ilmu dan amalnya sedikit, sebagaimana nasihat Syekh Junaid al-Baghdadi dalam Ihya’ Ulumuddin."



Berbagai kasus intoleransi terjadi hingga pertengahan 2025 disebabkan karena mayoritarianisme agama tertentu.


Takdir menawarkan gagasan tentang makna di tengah kekacauan, tetapi juga mengguncang keyakinan akan agensi manusia.


Gus Awis berpesan pada santrinya tiga hal yaitu mengingat kebaikan orang tua, mengkonsumsi makanan halal dan baik, dan membiasakan berkata jujur dan baik.



Guru madrasah swasta memiliki peran mulia namun tidak sebanding dengan gaji yang diterima.


Tuhan mungkin mengizinkan penderitaan, tetapi manusia sering kali menjadi instrumennya. Maka, ini bukan lagi tentang kebaikan Tuhan, melainkan tentang tanggung jawab manusia.


Rasuna Said bukan hanya nama jalan. Ia adalah suara keberanian perempuan yang menyatukan iman, ilmu, dan perlawanan; menantang pendidikan yang membungkam, agama yang membatasi, dan kekuasaan yang melupakan janji-janji keadilan

