















Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang penuh dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kekhawatiran. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kondisi sulit yang kita hadapi? Marilah kita renungkan bersama melalui khutbah Jumat kali ini. Setiap orang pasti pernah berada pada titik kehidupan yang […]


Islam mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri melalui ikhtiar, kerja keras, dan tawakal kepada Allah. Khutbah Jumat ini mengulas pentingnya mencari rezeki yang halal dengan meneladani para nabi.


Khutbah Jumat tentang pentingnya selektif memilih idola dan guru berdasarkan ilmu, akhlak, dan istiqamah di era media sosial.


Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, gengsi, dan keinginan dipuji manusia. Melalui refleksi Surah Al-Kautsar, khutbah ini mengajak umat Islam memahami makna kurban yang benar-benar lillahi ta’ala.


Di tengah himpitan ekonomi dan berbagai realitas sosial yang terasa semakin berat, umat Islam tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Khutbah Jumat ini mengajak kaum muslimin agar tetap teguh menolak kezaliman, serta menjaga iman meskipun berada dalam kondisi yang sulit.


Bagi orang Madura, sarung dan kopiah bukan sekadar aksesoris dan simbol agama, melainkan lebih dari itu, yaitu semacam identitas jati diri.


“Kendala yang dihadapi dalam sertifikasi produk halal adalah karena banyaknya bahan-bahan yang menggunakan daging ternak di mana rumah pemotongan hewan belum bersertifikat halal,” terang Moh. Fathurrozi Ketua Badan Industri Halal Majelis Ulama Provinsi Jawa Timur.


"Melalui pemahaman yang lebih baik tentang keberagaman agama, kita yakin dapat menciptakan generasi yang lebih terbuka dan toleran."


Dalam hati, saya bergumam, “Moderasi beragama itu sangatlah penting, apalagi di lingkup Perguruan Tinggi Keagamaan."


Bayangkan saja, seorang mahasiswa doktoral menangis tersedu-sedu di hadapan rekan sejawat, seperti seorang anak kecil menangis di pelukan abangnya sendiri, padahal mereka berbeda agama dan bahkan etnis dengan saya.


Dalam pembacaan Amanat Ciganjur, Ibu Sinta Nuriyah Wahid menyebut kekuasaan politik merupakan sarana manifestasi kemaslahatan dalam mewujudkan kesejahteraan dan tegaknya harkat dan martabat kemanusiaan.


Konsep moderasi beragama, menurut Pak Lurah Desa Jajar, “menjadi titik tolak untuk mengedepankan desa sebagai hulu kebudayaan, tanpa menafikan kemanusiaan.”


Badan Eksekutif Mahasiswa Umum (BEMU) Universtas Katolik Widya Mandala Surabaya berkolaborasi dengan GUSDURian Surabaya gelar kegiatan Muda Melek Politik 2.0.


Bopo Otto merupakan tokoh yang memainkan peran sentral dalam menjaga dan merawat energi dialog lintas agama/kepercayaan yang sudah berjalan empat tahun terakhir.


Merayakan perbedaan bagi mereka tak ubahnya seperti misi profetik.

